Archive for June 11th, 2007|Daily archive page
Ali bin Abi Thalib, Pendiri Mazhab Cinta
Ali bin Abi Thalib, Pendiri Mazhab Cinta
- KH. Jalaluddin Rakhmat –
|
S |
atu-satunya manusia yang dilahirkan di bawah naungan Ka’bah adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika ibunya, Fathimah binti Asad, dalam keadaan hamil tua, ia thawaf mengelilingi Ka’bah. Pada saat itulah, datang tanda-tanda bahwa ia akan segera melahirkan. Abu Thalib lalu membawanya masuk ke dalam Ka’bah dan di tempat itulah Ali bin Abi Thalib lahir.
Menurut satu riwayat, ibunya meminta agar anak yang baru lahir itu diberi nama Haidar, yang berarti singa. Kakek dari arah ibunya bernama Asad, yang juga berarti singa. Tetapi Abu Thalib berkata, “Kita tunggu saja sampai Rasulullah saw datang.” Masih menurut riwayat ini, Ali kecil tidak mau menyusu kepada ibunya sebelum Rasulullah saw datang. Ketika Rasulullah saw tiba, ia mengecup Ali dan Ali pun mengecup Nabi. Rasulullah saw menamainya ‘Ali yang berarti orang yang memiliki ketinggian. ‘Ali adalah salah satu nama Tuhan. Misalnya dalam ayat, “Wa lâ ya’udduhû hifzhuhumâ wa huwal ‘aliyul ‘azhîm.” (QS. Al-Baqarah 255). Sama halnya dengan nama Muhammad, yang juga merupakan nama Tuhan, seperti dalam hadits Qudsi, “Ana Mahmud, wa anta Muhammad. Aku Tuhan adalah Yang Terpuji dan engkau juga adalah yang terpuji,”
KANG JALAL : KONFLIK SUNNI-SYIAH DI IRAK DISEBABKAN KEHADIRAN AS
KANG JALAL : KONFLIK SUNNI-SYIAH DI IRAK DISEBABKAN KEHADIRAN AS
Wawancara dengan : Ahmad Nurcholish/Syirah
Siang itu, langit
Jakarta terasa sangat menyengat. Tak hanya itu, kepulan asap kendaraan bermotor yang memadati lalu lintas
Jakarta semakin melengkapi kesemrawutan
kota metropolitan ini.
Namun, suasana itu hilang saat memasuki Pusat Studi Islam Paramadina di bilangan Pondok Indah Jakarta Selatan. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. sedang menyampaikan kuliah di depan mahasiswa Paramadina. Uraiannya yang tandas dengan basis pengetahuan yang luas membuat mahasiswa fokus mendengar ceramahnya.
Jalaluddin dikenal sebagai pakar komunikasi, pemuka agama dan pimpinan Jemaah Ahlul Bait. Ia lebih akrab disapa Kang Jalal. Sejumlah buku telah lahir dari tangannya. Di antaranya adalah Islam Aktual (Mizan Pustaka), Meraih Cinta Ilahi (Remaja Rosda Karya), Madrasah Ruhaniah (Mizan Pustaka), dan Memaknai Kematian (IIMAN).
Ketokohan dan pemikirannya dapat disejajarkan dengan almarhum Cak Nur dan Gus Dur. Bahkan, penulis buku Islam dan Pluralisme: Akhlaq Qur’an Menyikapi Perbedaan ini juga memantik kecaman dari kubu yang bersebrangan dengan gagasan-gagasannya.
Adian Husaini misalnya, dalam situs Hidayatullah.com, ia mengatakan: “Jalaluddin Rakhmat, memanipulasi ayat untuk mendukung gagasan Pluralisme Agama. Cara seperti ini sama saja dengan “menjual minyak babi bercap onta”,” kata anggota MUI ini.
Namun, pria yang lahir di
Bandung , 29 Agustus 1949 ini tetap konsisten dengan keyakinan yang dipahaminya. Termasuk soal nikah mut’ah dan poligami. Baginya kedua hal tersebut dihalalkan oleh ajaran agama yang tidak seorang pun boleh mengharamkannya.
Usai mengajar di PSI Paramadina, Kamis (3/5) lalu ia langsung menuju mess IJABI di Jl. Puri Mutiara II/39 Jakarta Selatan untuk berbincang dengan Syir’ah.
Ditemani sepiring tempe goreng, sepiring tahu goreng, sepiring kacang atom, dan sepiring rempeyek kacang, kepada kontributor Syir’ah Ahmad Nurcholish, Kang Jalal berbicara panjang lebar seputar pertemuan Sunni-Syiah Istana Bogor awal April lalu, tentang Nikah Mut’ah yang sudah disalahgunakan, juga soal poligami yang belakangan ramai diperdebatkan. 6 orang pengurus IJABI turut pula menemani perbincangan akrab dan hangat siang itu. Berikut petikannya:
Leave a Comment
Leave a Comment
Leave a Comment